• Home
  • Infomina
  • Mahasiswa ITS Gagas Desain Alat Budidaya Ikan Lepas Pantai Otomatis

Mahasiswa ITS Gagas Desain Alat Budidaya Ikan Lepas Pantai Otomatis

| Wed, 14 Apr 2021 - 09:28

Tiga mahasiswa Departemen Teknik Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas desain alat budidaya ikan tuna lepas pantai otomatis bertenaga surya. Alat ini diharapkan mampu meningkatkan potensi budidaya ikan lepas pantai di Indonesia.

 

Tim beranggotakan Muhammad Akbar Hardian, Dinda Febriani Analiyah, dan Brigitta Violna El Tito. Salah satu anggota tim, Dinda Febriani mengatakan, Indonesia memiliki potensi laut yang besar dan perlu lebih dimaksimalkan.

 

"Salah satu potensi besar yang perlu dimaksimalkan adalah budidaya ikan tuna lepas pantai," ungkap Dinda mengutip siaran pers ITS, Kamis, 25 Maret 2021.

 

Mahasiswi kelahiran 2001 ini menyatakan, saat ini budidaya ikan lepas pantai di Indonesia masih dilakukan secara manual. Diperlukan sekitar 15 sampai 20 orang per hari untuk mengurus tempat budidaya ikan tersebut. Tentu ada risiko pekerjaan yang dihadapi seperti tingginya angka kecelakaan kerja.  "Karenanya, budidaya ikan lepas pantai di Indonesia belum efisien," ujarnya.

 

Baca juga: Mahasiswa FTUI Rancang Greenhouse Hidroponik dan Akuakultur


Berangkat dari permasalahan tersebut, tim ini berinovasi mendesain sebuah alat budidaya ikan lepas pantai bernama ASTOR atau Automatic Offshore Aquaculture with Solar Energy. Alat ini didesain untuk meningkatkan produksi budidaya ikan tuna lepas pantai. 

 

"Ikan tuna merupakan potensi besar yang dimiliki Indonesia dengan kontribusi penghasilan sebesar USD 480 juta per tahunnya," terang Dinda.

 

ASTOR didesain untuk beroperasi secara otomatis yang dilengkapi dengan sistem monitor (monitoring system), sistem pemberiaan pakan (feeding system), ruang penyimpanan pakan (food storage), sistem sel surya (solar system), ruang penyimpanan (operational storage), dan sistem keamanan (security system) menggunakan kamera CCTV.

 

Ia menjelaskan, pemberian pakan dalam sistem tersebut dilakukan melalui feeding system yang terhubung langsung dengan monitoring system. Seluruh sistem dapat bekerja dengan energi listrik yang dihasilkan oleh sel surya.

 

Pemberian pakan oleh sistem dilakukan dua kali sehari. Sistem pemberi pakan akan menerima perintah dari sensor yang ada di dalam sistem monitor untuk mengeluarkan pakan.

 

Baca: Probiotik Herbal Kreasi Mahasiswa KKN Undip, Panen Ikan Lele Hanya 1 Bulan

 

Sensor pada monitor terbagi menjadi dua bagian, yaitu underwater sensor dan camera underwater. Kedua sensor tersebut menempel pada dinding keramba kolam yang terbuat dari pipa HDPE.

 

Sensor pada sistem monitoring tersebut telah diatur untuk mengetahui waktu yang pas dalam memberi pakan ikan. Sensor tersebut dapat mengetahui ikan sedang lapar melalui tingkah laku ikan. Biasanya, ketika lapar ikan akan naik ke permukaan dan berada di bawah permukaan ketika sudah merasa kenyang.

 

"Selain itu, sensor pada sistem monitor juga dapat mengetahui kualitas air dengan mengukur level pH air tersebut," ujarnya.

 

Menurut Dinda, ASTOR bisa memudahkan para nelayan untuk mengontrol serta memberi makan ikan secara otomatis tanpa harus pergi ke lepas pantai karena dapat dikontrol melalui darat. Hal tersebut dapat mengefisiensi budidaya ikan lepas pantai dan meminimalisasi risiko kerja. ASTOR juga dapat meningkatkan produksi ikan tuna di Indonesia.

 

Ikan tuna saat ini sudah masuk kategori penangkapan berlebih, sehingga dapat menyebabkan kepunahan. Peningkatan produksi ikan tuna diperlukan agar tetap menjaga keberadaan dan menutupi kebutuhan ikan tuna di Indonesia.

 

"Oleh karena itu, budidaya ikan tuna menggunakan ASTOR adalah cara yang tepat dalam mengatasi hal tersebut karena dapat membantu peningkatan produksi ikan melalui budidaya berkelanjutan (sustainable production)," tuturnya.

 

Baca juga: Maksimalkan Budidaya Ikan, Mahasiswa Kembangkan Aplikasi Sahabatambak

 

Berkat inovasinya, tim ini masuk sebagai finalis lomba Paper and Poster Competition Indonesia Ocean Expo (IOE) 2021 yang diselenggarakan Institut Teknologi Bandung (ITB), beberapa waktu lalu. "Walaupun paper kami tidak menjuarai kompetisi tersebut, tetapi paper kami mendapat predikat sebagai paper dengan poster terbaik," ucap dia.

 

Tim berharap dengan inovasi desainnya tersebut akan membantu Indonesia dalam memanfaatkan potensi laut di Indonesia lebih baik lagi, terlebih untuk budidaya berkelanjutan ikan tuna. Ia juga berharap desain alat yang dibuat dapat segera direalisasikan.


Sumber: medcom.id

Artikel lainnya