Minapoli
Bisakah Nila Jantan Alami Mengatasi Penyakit Baru?
Mas

Bisakah Nila Jantan Alami Mengatasi Penyakit Baru?

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
9 menit baca

Ikan nila yang belum diobati dengan\r\nhormon tampaknya lebih kuat terhadap penyakit seperti Tilapia Lake Virus (TiLV), memperkuat alasan untuk menggunakan\r\njantan yang diproduksi melalui cara alami...

Ikan nila yang belum diobati dengan\r\nhormon tampaknya lebih kuat terhadap penyakit seperti Tilapia Lake Virus (TiLV), memperkuat alasan untuk menggunakan\r\njantan yang diproduksi melalui cara alami.

Ikan nila adalah salah satu ikan yang paling banyak dibudidayakan di dunia -\r\ndengan jumlah produksi dunia sebesar 6,3 juta ton (senilai sekitar US $ 9\r\nmiliar) di tahun 2018. Dari tahun 2010 hingga 2016, volume produksi melonjak\r\nsebesar 68 % - sebuah ekspansi yang telah membawa banyak peluang tetapi juga\r\nbeberapa yang tantangan serius. Selama lima tahun terakhir, sejumlah virus dan\r\npatogen lainnya telah mendatangkan malapetaka pada sektor nila, sebagaimana\r\ndilaporkan The Fish Site baru-baru\r\nini.

Salah satu penyakit mewabah pada budidaya\r\nikan nila adalah Tilapia Lake Virus\r\n(TiLV), yang ditemukan pada tahun 2014. Virus ini dapat menyebabkan kematian\r\nhingga 90 %. Sampai awal tahun ini diperkirakan bahwa virus hanya menyebar di\r\nantara ikan yang dibudidayakan di kolam yang sama yang disebarkan antar ikan budidaya, tetapi bukti baru menunjukkan bahwa virus itu juga dapat ditularkan dari\r\ninduk ke telur lalu benih. Para ahli telah memperingatkan bahwa dampak sosial dan ekonomi\r\nmungkin terjadi jika virus terus menyebabkan kematian massal pada stok nila.

Baca juga: Study Tests Autogenous Vaccine to Protect Nile Tilapia


WorldFish, salah satu promotor utama pembudidaya nila, telah memprioritaskan penelitian untuk menentukan penyebabnya.\r\nSejauh ini telah disimpulkan bahwa, dalam kasus-kasus kematian yang terjadi di\r\nMesir, di mana sekitar 35 % pembudidaya telah menderita akibat tingkat kematian yang tinggi karena wabah\r\npenyakit yang terjadi terus-menerus, dapat dikaitkan dengan berbagai alasan, termasuk\r\nkualitas air, suhu, kepadatan di panen, kurangnya biosekuriti dan praktik\r\nmanajemen yang buruk. WorldFish\r\nmengakui bahwa ada kebutuhan mendesak untuk lebih memahami interaksi antara\r\npatogen dan komponen.

Saat ini pembudidaya disarankan untuk memerangi TiLV dan wabah\r\npenyakit lainnya dengan meningkatkan biosekuriti, dengan lebih ketat menyaring\r\ninduk dan bibit yang baru diperoleh, dan dengan mengurangi kondisi yang berpotensi\r\nmenimbulkan stres di lahan budidaya. Namun, sedikit perhatian telah diberikan untuk menentukan dan\r\nmenyelesaikan akar penyebab peningkatan kejadian wabah penyakit ini.

Salah satu faktor risiko utama untuk\r\nTiLV, seperti yang diduga oleh Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (OIE),\r\nadalah stres. Namun, mereka juga menunjukkan bahwa beberapa jenis nila alami\r\nyang semuanya jantan tampak tidak terpengaruh oleh virus ini. Mengapa ini bisa\r\nterjadi?

Baca juga: Sodium Bicarbonate - Safe Anesthetic for Red Tilapia

Akar permasalahan

Semakin banyak ilmuwan percaya bahwa\r\nmenggunakan testosteron (atau produk hormonal lainnya), penggunaan bahan kimia\r\ndan obat-obatan hewan dalam jumlah besar, dan perkawinan sedarah, adalah tiga\r\npenyebab utama TiLV yang harus dibenahi.

Efek Penggunaan Hormon pada Ikan dan Lingkungan

Populasi nila dengan jenis kelamin jantan\r\nlebih disukai oleh pembudidaya, karena memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dan ikan yang lebih seragam.\r\nProses perubahan jenis kelamin di ikan tidak berlangsung seperti mamalia;\r\nbanyak ikan memiliki kemungkinan untuk mengubah jenis kelamin mereka. Pada ikan\r\nnila, proses ini dilakukan dengan aplikasi hormon pada stadia benih. Benih diberikan\r\nhormon dengan cara mencampurkannya ke pakan atau ke dalam air. Pemberian hormon\r\nakan merangsang perubahan jenis kelamin secara instan. Meskipun bermacam-macam hormon digunakan,\r\nhormon yang paling umum adalah digunakan adalah metil-testosteron.

Abo-Al-Ela (2018) baru-baru ini\r\nmemberikan tinjauan menyeluruh tentang masalah yang terkait dengan penggunaan\r\nsteroid dalam akuakultur, termasuk efeknya terhadap pekerja kolam yang\r\nterpapar, kontaminasi residu pada aliran air, efek genotoksik dan penekan\r\nsistem kekebalan tubuh ikan.

Seperti dijelaskan Abo-Al-Ela,\r\nmetil-testosteron merupakan pengganggu endokrin yang kuat dan diketahui\r\nmenyebabkan efek genotoksik pada limfosit manusia, yang membantu mengatur\r\nsistem kekebalan tubuh. Di Mesir, para peneliti baru-baru ini menunjukkan bahwa\r\nnila yang diobati dengan hormon memiliki kadar limfosit dan sel darah putih\r\nyang rendah, sel-sel yang memainkan peran penting dalam menekan dan memerangi\r\npenyakit.


Cegah Penyakit Pada Ikan dengan Vaksin Disini


Penelitian serupa pada salmon Chinook\r\nmenunjukkan bahwa ikan yang diobati dengan testosteron menunjukkan penurunan\r\nsignifikan dalam sel-sel yang memproduksi antibodi. Dampak imunosupresi yang\r\ndisebabkan oleh aplikasi steroid lebih berkurang di musim dingin dan meningkat\r\ndi musim semi, yang mungkin menjelaskan pola musiman wabah penyakit yang juga\r\nterlihat untuk nila.

Topik yang berkaitan dengan genotoksisitas hormon dan bahan\r\nkimia,serta antibiotik\r\ndalam kegiatan budidaya kurang mendapat perhatian.\r\nGenotoksisitas adalah kemampuan agen kimia untuk merusak informasi genetik dari\r\nsel, menyebabkan mutasi yang dapat menyebabkan kanker. Perubahan permanen ini\r\ndapat diteruskan dari satu generasi ke generasi ikan selanjutnya.

Sebuah penelitian baru-baru ini tentang\r\npaparan ikan terhadap antibiotik (termasuk paparan jangka pendek dengan\r\nkonsentrasi rendah yang sering dipakai dalam budidaya), mengungkapkan kerusakan\r\nsignifikan pada DNA ikan (Botelho et al.\r\n2015). Meskipun organisme umumnya dapat memperbaiki DNA yang rusak, beberapa\r\nkerusakan kemungkinan besar bersifat permanen dan dapat diturunkan ke generasi\r\nnila yang akan datang.

Masalah lain yang kurang banyak mendapat\r\nperhatian adalah kurangnya keragaman genetik pada strain nila yang\r\ndibudidayakan, ditambah hilangnya keragaman genetik dalam akuakultur dan stok\r\nikan liar secara umum. Dengan menggunakan stok yang sama untuk pemuliaan dari\r\nsatu generasi ke generasi berikutnya tanpa mengikuti program pemuliaan yang\r\nbaik, sebagaimana sering terjadi pada budidaya nila, perkawinan sedarah sering\r\nterjadi dan jumlah variasi genetik yang ada pada populasi ikan berkurang.\r\nBeberapa varian genetik ini mungkin mendukung resistensi penyakit, sementara\r\nyang lain mungkin membuat ikan lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan iklim\r\natau situasi lainnya.

Mempertahankan keragaman genetik sangat\r\npenting. Sebuah studi yang mengkarakterisasi struktur genetik dari strain nila\r\nyang diperkenalkan di Tanzania menunjukkan penurunan yang signifikan keragaman\r\ngenetik sebagian besar pada nila yang dibudidayakan secara lokal. Hasil studi\r\nmenyimpulkan bahwa efek dari perkawinan yang masih dalam satu generasi dan konsekuensi\r\npenurunan keragaman genetik akan\r\nberdampak pada pembudidaya yang memproduksi dalam jumlah kecil, yang cenderung memiliki sedikit pengetahuan mengenai pemuliaan ikan\r\ndan sedikit kemampuan untuk\r\nmemenuhi kebutuhan induk baru

Jika hubungan antara pengurangan\r\nkeanekaragaman genetik dan berkurangnya efektivitas sistem kekebalan ikan nila\r\nterbukti, maka negara-negara berkembang dan petani kecil akan terkena dampak\r\npaling keras.


Baca juga: Genetics Key to TiLV Resistance


Solusi

Eric Bink adalah pembudidaya ikan Belanda yang\r\nsangat percaya pada cara alternatif yang berkelanjutan untuk budidaya ikan\r\nnila. Eric telah lama memiliki minat dalam produksi ikan budidaya, hingga\r\nmengambil studi ekologi perairan. “Saya tertarik pada produksi ikan tanpa\r\nintervensi buatan, menggunakan siklus pemijahan alami dan memanipulasi cahaya\r\ndan suhu dengan hati-hati. Saya ingin mengembangkan sistem budidaya ikan yang\r\nsepenuhnya berbeda jauh dengan cara-cara yang ada pada salmon (injeksi hormon),\r\nlele (hormon dan mengeluarkan bagian testis) dan udang (ablasi tangkai mata).\r\n"

Selama kunjungan ke Mombasa di mana\r\nistrinya menyelesaikan gelar dokter hewan, ia mengunjungi tempat pembenihan\r\nnila dan melihat peluang untuk memulai pembenihan sendiri di Belanda.\r\n"Budidaya kami tidak menggunakan hormon untuk pengubahan jenis kelamin.\r\nSebagai gantinya kami menerapkan ilmu genetika ikan yang dikombinasikan dengan\r\nseleksi genetik, dikenal juga sebagai teknologi YY. ”

Lebih dari 20 tahun telah berlalu dan\r\nTil-Aqua telah menjadi pemain terkemuka dalam produksi pembenihan jantan YY,\r\ndan nila jantan alami (jantan XY, keturunan jantan YY), merek dagang yang\r\ndigunakan oleh perusahaan itu.

Singkatnya, teknologi YY menggunakan\r\nseleksi genetik untuk menghasilkan ikan jantan tanpa menggunakan hormon atau\r\nbahan kimia lainnya.

Perusahaan hanya menggunakan seleksi\r\ngenetik dan perubahan suhu yang hati-hati pada hari-hari pertama setelah\r\nmenetas untuk mengubah jenis kelamin ikan dari jantan ke betina. Produk\r\nakhirnya adalah ikan jantan dengan kromosom XY normal. Ini berbeda dengan\r\nperlakuan hormon pada nila, dimana 50 % ikan jantan secara genetik masih betina\r\ndan memiliki kromosom XX.

Pengembangan Garis Keturunan YY di

Bink dan timnya telah menyempurnakan\r\nteknologi ini selama 20 tahun terakhir dan telah mengembangkan dua garis induk\r\nkuat yang mereka jual baik sebagai bibit (nila jantan alami) dan induk (induk\r\nYY). Nila jantan liar mencapai lebih dari 800 gram, menjadikannya ideal untuk\r\nfillet atau ikan utuh, sementara nila jantan merah alami mereka dijual secara\r\nutuh dan tumbuh sangat baik pada air payau dan air laut.

Perusahaan ini juga menyediakan program\r\npelatihan yang dibuat khusus, yang berhasil membantu perusahaan-perusahaan di\r\nseluruh dunia, khususnya di Afrika dan Amerika Selatan.

Bink menjelaskan bahwa mereka telah\r\nbekerja keras untuk mempertahankan keragaman genetik dari strain mereka dengan\r\nmenghindari inbreeding "Cara\r\nkami memijahkan ikan nila dengan dua garis O. niloticus\r\nyang berbeda (garis YY dan garis betina) menunjukkan efek heterosis," jelasnya.

Dikenal dengan istilah hybrid vigour (kekuatan hibrida),\r\nfenomena ini terjadi ketika dua garis pemuliaan disilangkan, hibrida yang\r\ndihasilkan lebih kuat dan produktif dari pada induk aslinya.


Baca juga: Why Biosecurity is The Best Defence Against Tilapia Lake Virus


Tidak mengherankan, sebuah penelitian\r\nyang menentukan keragaman genetik pada strain nila menilai strain perak\r\nTil-Aqua sebagai strain yang paling beragam secara genetik.

Beberapa peneliti juga telah menggunakan\r\ngalur pengembangbiakan Til-Aqua untuk percobaan dengan virus TiLV dan penyakit\r\nlainnya, diperoleh hasil yang sangat baik. Meskipun tidak semua hasil konklusif, bahkan\r\nOIE mencatat tentang penyakit TiLV bahwa: “Ada bukti bahwa strain genetik nila\r\ntertentu tahan. Ferguson et al.\r\n(2014) mencatat bahwa satu jenis nila (nila jantan secara genetik) mengalami\r\ntingkat kematian yang secara signifikan lebih rendah (10-20 %) dibandingkan\r\ndengan jenis lainnya. ”

Makalah yang disebutkan oleh OIE\r\nberpendapat bahwa penyebab yang paling mungkin untuk hal ini adalah susunan\r\ngenetik ikan atau fakta bahwa mereka belum pernah diberi perlakuan dengan metil\r\ntestosteron di awal kehidupan. Apa pun itu, hal ini menunjukkan ada solusi bagi\r\npembudidaya.\r\nSejalan dengan temuan ini, Bink dan timnya berharap untuk mengembangkan YY-line\r\nyang tahan terhadap TiLV di masa depan.

“Sayangnya perusahaan kami tidak mampu\r\nmenjalankan proyek yang begitu lama dan mahal saat ini. Tapi kami jelas sangat terbuka untuk\r\nkolaborasi, ”jelasnya.


Beli Sekarang!

Perkembangan\r\nmasa depan

Untuk mengembalikan sektor nila ke arah\r\nyang lebih baik, resistensi unik nila Til-Aqua terhadap TiLV harus dipahami\r\ndengan lebih dalam. Untuk itu, penelitian lebih lanjut harus dilakukan untuk\r\nmemastikan hubungan antara penggunaan hormon dan efek jangka panjang pada\r\nrespon imun ikan. Hal yang sama berlaku untuk seleksi genetik dan efek\r\ngenotoksik dari obat-obatan hewan dan bahan kimia lain yang digunakan dalam\r\nbudidaya.

Taruhannya tinggi karena kehidupan dan\r\nmata pencaharian jutaan orang di negara berkembang berisiko. Penelitian\r\nkolaboratif, inklusif, dan transparan sangat penting untuk menghentikan\r\npenyebaran virus lebih lanjut.

Di saat yang bersamaan, perlunya perhatian lebih pada seleksi genetik dan penggunaan program pemuliaan untuk\r\nmemelihara dan meningkatkan keanekaragaman genetik ikan. Menggunakan teknik\r\ngenomik untuk menentukan keragaman genetik akan sangat penting untuk tujuan\r\nini.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, seperti yang ditunjukkan oleh\r\ntemuan dalam artikel ini, diperlukan pendekatan pencegahan - penggunaan hormon\r\nharus dipertanyakan secara serius, sementara penggunaan seleksi genetik untuk\r\nproduksi alami semua ikan jantan harus ditanggapi secara serius sebagai\r\nalternatif yang paling berkelanjutan.


Diterjemahkan oleh Tim Minapoli

Sumber : The Fish Site

Tentang Minapoli

Minapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. 

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan