Jika satu petakan tambak saja 24 kincir, satu lokasimisalnya 100 kincir, cost yang bisa ditekan mencapai Rp 100 juta. Kincirmerupakan salah satu kebutuhan dalam proses budidaya udang. Peranannyasangat...
Jika satu petakan tambak saja 24 kincir, satu lokasimisalnya 100 kincir, cost yang bisa ditekan mencapai Rp 100 juta. Kincirmerupakan salah satu kebutuhan dalam proses budidaya udang. Peranannyasangatlah penting untuk menyuplai Disolve Oxygen (DO) atau oksigen terlarut airdi tambak. Hal ini diakui oleh Haji Buntara selaku petambak udang vannameiBanten. Ia mengatakan pentingnya penggunaan kincir dalam usaha budidayasehingga udang dapat tumbuh secara optimal.
“Jantungnya dalam budidaya udang vannamei adalah kincir,dengan peranan utamanya sebagai penyuplai oksigen ke air. Selain itu peran darikincir juga untuk membuat arus pada tambak sehingga membersihkan area permukaandan dasar air tambak. Dengan demikian menciptakan kestabilan arus yang baik untukpertumbuhan dan kesehatan udang,” ucap Haji Buntara pada TROBOS Aqua saatditemui di lokasi usahanya baru – baru ini. Dalam aplikasinya, kincir yangdigunakan membutuhkan cukup banyak biaya untuk perawatan atau pembelian baru.Maka perlu disiasati dalam perawatannya, antara lain terang Buntara, denganmerakit sendiri kincir unutk menekan biaya dan juga memudahkan dalam perawatannantinya.
Produksi Lokal TekanBiaya
Jika diperhitungan dari segi biaya, tutur Buntara, satu unityang siap pakai rata-rata harganya Rp 6 juta. Namun siapa sangka beberapa partsbisa dibuat dan dirakit sendiri. Gunanya menekan biaya pembelian kincir danjuga maintenance. Dengan merakit beberapa parts produksi lokal, bisamenekan biaya sebanyak Rp 1 – 1,1 juta per unit atau 20 - 30 % dari harga padaumumnya. Hal ini sudah cukup lumayan menekan biaya perbaikan apabila rusak atauharus membeli baru. “Jika satu petakan tambak saja 24 kincir, satu lokasimisalnya 100 kincir, ada biaya selisih Rp 1 juta. Berarti ada cost yang bisaditekan mencapai Rp 100 juta,” ungkap Haji Buntara.
Pasalnya, ia melanjutkan, penggunaan beberapa parts yangbisa dibuat atau dibeli di dalam negeri sudah pasti menang dari segi biaya.Karena pertama, spare part yang diproduksi dalam negeri tidak terkena beamasuk, karena pada umumnya kincir yang dengan merk dagang ternama didatangkandari luar negeri.
Kedua, biaya transportasi atau pengiriman sudah pasti lebihrendah dibandingan dengan kincir pada umumnya. Sehingga, seharusnya Indonesiabisa memproduksi kincir sendiri. “Tidak semua parts bisa didapatkan di dalamnegeri, karena masih ada beberapa parts yang harus didatangkan dari luarnegeri. Namun dengan demikian saja bisa menekan biaya pembuatan kincir,” terangHaji Buntara yang juga tergabung dalam Shirmp Club Indonesia (SCI). Contohnya,dalam pemilihan as kincir perlu memperhatikan bahannya. Ia menuturkan,sebaiknya menggunakan bahan yang terbuat dari stainless steel sehingga antikarat dan lebih tahan lama. As stainless steel yang anti karat dapat diperolehdi toko material, sehingga bisa menekan biaya. Disamping as kincir, padle wheelyang baik serta pelampung juga harus diperhatikan kualitasnya karena akanmempengaruhi ampernya.
“Jika industri lokal kami percayakan untuk merakit danmembuat kincir, sebaiknya pertahankan kualitas atau bahkan tingkatkankualitasnya,” terang Haji Buntara. Imbuhnya, jangan sampai jika para petambakmulai beralih dengan produk lokal, namun sebagai produsen nantinya memproduksiseenaknya, sehingga nantinya hanya akan membuat biaya maintenance atauperawatan bengkak.
Sumber : Trobos Aqua

Ditulis oleh
Minapoli
Penulis
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
