• Home
  • Infomina
  • Hasanuddin Atjo: Industri Udang Perlu Contoh Ekuador dalam Mengatasi Masalah Penyakit, Mutu Benur, dan Mutu Produk

Hasanuddin Atjo: Industri Udang Perlu Contoh Ekuador dalam Mengatasi Masalah Penyakit, Mutu Benur, dan Mutu Produk

| Tue, 04 Mar 2025 - 20:54

Industri udang nasional pada tahun 2025 diperkirakan masih terperangkap pada tiga persoalan, yaitu persoalan penyakit, mutu benur, dan mutu produk. Persoalan ini tentunya perlu ditemukan solusinya agar bisnis komoditas ini kembali menggeliat dan menguntungkan para pembudidaya udang.


Ekspor udang Indonesia pada lima tahun terakhir mengalami fluktuasi. Tahun 2019, tercatat sebesar 200.599 ton. Tahun 2020 meningkat menjadi 227.948 ton, dan tahun 2021 ekspor udang Indonesia mencapai angka tertinggi sebesar 241.101 ton dengan nilai 2,18 miliar USD.




Namun, ekspor tahun 2022 kembali menurun menjadi 231.413 ton dan terus menyusut menjadi 209.066 ton pada tahun 2023. Pada tahun 2024, ekspor kembali menunjukkan penurunan menjadi 202.464 ton dengan nilai sekitar 1,81 miliar USD. 


Turunnya ekspor udang negeri kepulauan ini pada tiga tahun terakhir (2022 - 2024) antara lain disebabkan oleh turunnya produksi udang nasional. Penurunan produksi ini juga tak lain disebabkan oleh sejumlah faktor. 


Menurunnya harga udang pasar global pada tiga tahun terakhir menjadi sebab  pembudidaya udang mengurangi padat tebar hingga 30%. Selain itu, sulitnya memperoleh benur sehat juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. 


Investigasi sepanjang tahun 2024 hingga awal tahun 2025 memberi indikasi bahwa benur yang beredar (hingga 60%) dalam kategori tidak sehat karena telah terinfeksi bakteri maupun virus. 


Benur yang tidak sehat serta penerapan SOP budidaya yang tidak standar menjadi faktor penyebab meningkatnya kasus penyakit udang yang dominan menimpa sekitar 85% petambak tradisional dari total area tambak di Indonesia.  


Mutu produk udang Indonesia juga mulai dipersoalkan oleh beberapa negara importir. Kebiasaan merendam udang hingga 3-4 hari kemudian diproses menjadi udang kupas (peeled) maupun produk lain masih berlangsung. 


Sementara, negara produsen lainnya seperti Ekuador, India, Vietnam dan Thailand telah mengedepankan mutu udang sebagai bahan baku sejumlah produk. Hal ini menyebabkan daya saing produk udang dari Indonesia tergerus. 


Shrimp Outlook tahun 2025 yang dihelat 27 Februari lalu di Yogyakarta dan dihadiri sekitar 350 pelaku bisnis, asosiasi udang, serta kalangan profesional memberi sejumlah informasi yang bisa menjadi referensi untuk menyusun strategi dan sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha. 


Acara yang diadakan oleh startup inovasi teknologi akuakultur, JALA, serta berkolaborasi dengan US Soybean Export Council ini menghadirkan sejumlah narasumber ternama dari dalam maupun luar negeri. 



Shrimp Outlook 2025


Salah satunya narasumber dari Ekuador, yang pada saat ini menjadi negara dengan produksi udang paling tinggi di dunia.


Terungkap pada acara tersebut, bahwa harga udang pada tahun 2025 cenderung akan membaik dari tahun-tahun sebelumnya. Di samping itu, pesan yang muncul dan tidak kalah penting adalah mutu udang menjadi faktor yang harus dipenuhi oleh produsen utama. 


Selain itu, dalam seminar tersebut juga dikemukakan bahwa pembudidaya udang Ekuador periode tahun 1990-2000 juga pernah babak belur karena sejumlah kasus penyakit udang baik yang disebabkan oleh bakteri maupun virus. 


Mereka akhirnya mampu keluar dari tekanan penyakit tersebut setelah sukses dalam mengembangkan proses breeding dan berhasil memproduksi induk unggul. Perkembangan yang kemudian diikuti dengan perbaikan teknologi hatchery agar bisa memproduksi benur sehat.


Strategi Ekuador selanjutnya yaitu mengembangkan teknologi nursery atau kolam inkubator yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas benur (imun maupun kelangsungan hidup) saat dibudidayakan di kolam pembesaran. 


Pemeriksaan kesehatan udang di hatchery dan nursery terus dilakukan agar bisa dipastikan bahwa benur yang ditebar pada kolam pembesaran berstatus sehat dan tanpa penyakit. Beda halnya dengan Indonesia masih jarang yang melakukan praktik tersebut. 


Dalam pergembangan inovasi dan teknologi selanjutnya, para pembudidaya udang di Ekuador memberi makan udang dalam jangka waktu tertentu dengan pakan fungsional sebagai upaya meningkatkan imun. Hal ini pun juga berdampak dan berujung pada keberhasilan.


Guna menekan harga pokok produksi (HPP) dan meningkatkan daya saing, telah diterapkan teknologi pemberian pakan dan kincir air otomatis berbasis sensor untuk menjamin ketersedian oksigen dan kelangsungan budidaya.


Oleh karena itu, HPP pembudidaya udang Ekuador lebih murah 0,75 - 1,00 USD per kilogram dari pembudidaya udang Indonesia.


Demikian pula halnya dengan monitoring kualitas air tambak dan air sumber yangtelah berbasis IoT (Internet of Things). Aspek yang menyebabkan proses mitigasi lebih terkendali. Dan ini juga relatif belum dilakukan di Indonesia.


Berkaitan dengan keberhasilan inovasi dan teknologi Ekuador,  ekspor udang negara tersebut mencatat angka 633.890 ton dengan nilai sekitar 4,4 miliar USD pada tahun 2019. 


Ekspor udang dari negara dengan garis pantai kurang dari 3.000 kilometer tersebut pun terus meningkat. Pada tahun 2024, ekspornya mencapai angka fantastis sebesar 1,2 juta ton dengan nilai sekitar 6,1 miliar USD. 


Berdasarkan realita kondisi industri udang serta informasi kemajuan inovasi dan teknologi Ekuador, sudah tentu Indonesia diharapkan mampu meningkatkan produksi dan ekspor udang. 


Diperlukan upaya kolaborasi untuk menyusun strategi agar udang Indonesia bisa menjadi salah satu pemasok utama Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, sebagaimana industri udang Ekuador yang saat ini menjadi pemasok PDB kedua tertinggi, setelah minyak.



Tulisan ini dibuat oleh Hasanuddin Atjo

Dewan Pakar MPN, SCI, dan Ispikani

Artikel lainnya